Jumat, 11 Maret 2011

WAJAH BARU ACEH

Oleh: Suriadi



Jam 18.00 waktu Indonesia bagian barat, merupakan luang waktu senggang yang sering digunakan oleh masyarakat Aceh untuk berkumpul dengan sanak saudara (family). Kebanyakan dari kalangan orang tua dan anak muda mempergunakan waktu tersebut menyaksikan berita di TVRI Aceh, dalam rangka untuk memahami kondisi dan situasi Aceh yang telah diliput oleh wartawan. Begitu juga dengan penulis.
Dalam siarannya mengenai daerah provinsi termiskin di Indonesia, Aceh menepati peringkat ke tujuh, berikut ini hasil laporan sepuluh provinsi termiskin di Indonesia menurut data dari BPS nasional yaitu Papua Barat 36,80 %, Papua 34,88 %, Maluku 27,74 %, Sulawesi Barat 23,19 %, Nusa Tenggara Timur 23,03 %, Nusa Tenggara Barat 21,55 %, Aceh 20,98 %, Bangka Belitung 18,94 %, Gorontalo 18,70 %, Sumatera Selatan 18,30 %. Sementara untuk lima daerah kabupaten termiskin di Provinsi nanggroe Aceh Darussalam menurut data BPS daerah posisi pertama diduduki oleh Nagan Raya. Penyebab dari kemiskinan tersebut karena penggarapan lahan yang dilakukan oleh PT Swasta terhadap tanah yang ada di Nagan Raya dalam skala yang sangat luas. Pemerintah memberi peluang HGU untuk perkebunan swasta dalam skalanya terlalu tinggi, Sehingga mengakibatkan masyarakat kesulitan untuk mendapatkan lahan, yang pada akhirnya mau tidak mau masyarakat harus bekerja di perkebunan-perkebunan swasta tersebut sebagai buruh. Disamping itu, dikalangan masyarakat yang berprofesi seperti petani padi yang terdapat di Beutong dan Senagan Timur, masih terkendala dalam hal infrastruktur, sehingga masyarakat tersebut harus mengolah secara tradisional atas hasil panenya.
Posisi keempat di duduki oleh Aceh Singkil, yang permasalahanya sama seperti kabupaten Nagan Raya di atas. Posisi ketiga diduki oleh kabupaten Bener Meriah, yang rata-rata berprofesi sebagai petani kebun kopi. Akses transportasi menuju ke Bener Meriah masih sangat memprihatinkan, Disana sini masih kita jumpai jalan-jalan berlubang, sehingga sangat sulit bagi masyarakat untuk memasarkan hasil tanamanya keluar daerah. Padahal secara mutunya, kopi yang ada di bener meriah merupakan suatu komuditi yang langka dan pemasaranya bisa di ekspor ke berbagai Negara kalau dikelola dengan baik. Kemudian dari itu, masalah infrastruktur juga salah satu penyebabnya. Dimana masyarakat hanya melakukan proses pengolahan kopi secara tradisional, sehingga menyebabkan masyarakat mengalami kendala dalam mempercepat proses pengolahan kopinya.
Daerah kedua diduki oleh kabupaten Aceh Barat dengan ibu kotanya Meulaboh. Penyebab utamanya adalah banjir, seperti yang terjadi di kecamatan woyla yang tidak pernah absen dalam setiap tahun. Peristiwa ini dikarenakan pemerintah setempat menurut siaran TVRI pada tanggal 23 februari 2011 kurangnya perhatian untuk membangun sarana irigasi. Sehingga waktu hujan mengguyur air selalu naik kepermukaan persawahan dan kampung-kampung penduduk. Disamping menyebabkan kerugian dibidang materil seperti perabot rumah tangga, masyarakat juga mengalami kegagalan panen, karena setiap hasil panen selalu terancam oleh kondisi tersebut.
Sedangkan posisi kesatu diduduki oleh Pidie Jaya yang ibu kotanya Beureunum. Di Pidie Jaya penyebab terjadinya kemiskinan diakibatkan oleh areal perkebunan masyarakat yang terlalu sempit, sehingga masyarakat harus mengola areal yang sempit tersebut untuk berbagai macam kebutuhan. Kodisi ini sangat memperihatinkan karena hasil yang didapatkan dari mengelola areal kebun tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan yang di harapkan dalam menopang kebutuhan rumah tangga.
Mengutip pendapat Bustami Abubakar, M.Hum dengan artikelnya “Pembangunan Model Of”(serambi 17/02/2011). Itu semua diakibatkan oleh kondisi pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah selama ini bersifat dari atas kebawah. Dimana pemerintah hanya melakukan berbagai macam pogram bedasarkan pelaksanaan diatas meja serta hanya melihat setiap permasalahan dari sudut kacamata sendiri. Akan tetapi tidak melihat langsung apa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang sesuai dengan lingkingan geografisnya.
Cukuplah yang sudah terjadi selama ini menjadi pengalaman, untuk kedepan Aceh harus memiliki wajah yang baru. Dan untuk mewujudkan wajah yang baru tersebut masyarakat Aceh sebagai objek dari pemerintah harus memiliki sikap Pemberontak, Kahlil Gibran seorang sastrawan dari Libanon pernah berkata bahwa jiwa itu terbagi kepada dua karakter. yaitu karakter pemberontak dan karakter statis (Nurchalis Sofyan, Semangat Pemberontakan Kahlil Gibran, Banda Aceh: Ar-Raniry Press.2006). Karakter pemberontak ialah masyarakat yang tidak menerima kenyataan yang berlaku dengan apa adanya, karena manusia mempunyai kehendak untuk merubah realita. Sedangkan karakter statis ialah masyarakat yang menerima kenyataan yang berlaku dengan apa adanya. Bagi masyarakat yang memiliki karakter ini  bahwa yang terjadi tidak dapat diubah.
Memberontak yang penulis maksudkan dalam bentuk revival (bukan dengan kekerasan) akan tetapi dengan pikiran yang kritis Yaitu berusaha melawan kenyataan yang terjadi karena bertentangan dengan keinginan jiwa atau tidak sesuai dengan apa yang dinginkan. Refleksi sikap memberontak ini terjadi pada masyarakat yang sering diabaikan dan kurang mendapat perhatian baik oleh penguasa maupun Negara. Jadi warga masyarakat sebagai individu tidak boleh pasrah pada kenyataan. Masyarakat harus kritis dalam menyikapi setiap persoaalan yang terjadi. Sama-sama mengawasi atas segala kebijakan dan setiap pogram yang direncanakan oleh pemerintah, masyarakat harus berperan aktiv dalam setiap proses pembangunan. Disamping itu al-qur’an juga telah menjelaskan “Allah tidak akan merubah nasip seorang kaum kecuali dia sendiri yang merubahnya”.
Mengingat kondisi Aceh hari ini, timbul pertanyaan siapa yang bersalah? Pemerintahkah atau masyarakatkah yang kurang cerdas dalam memilih pemimpinya? Dan itu adalah tanggung jawab dari seluruh masyarakat. Semoga dalam pemilu 2011 ini yang tinggal menghitung bulan masyarakat tidak salah lagi dalam menempatkan pilihanya kepada seseorang yang akan diberi legitimasi, baik untuk calon gubernur maupun calon bupati. Pilihan kita sangat menentukan untuk perkembangan lima tahun Aceh yang akan datang, karena penyesalan diakhir tiada berguna. Tentu kita semua tidak berharap sebagai mana pepatah lama mengatakan “nasi telah menjadi bubur”. Masyarakat harus cerdas, karena kapal Aceh akan selamat apabila yang menjadi nahkoda terseut adalah orang-orang yang cerdas terutama intelektal muda.
Semoga apa yang terjadi hari ini bisa menyadarkan pemerintah dan menjadi kontribusi buat masyarakat serta calon pemimpin Aceh dimasa yang akan datang. Karna daerah yang maju bukan dilihat dari kesuburan politiknya akan tetapi diukur dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Apalagi mengingat kondisi otonomi yang hanya tinggal belasan tahun, kalau rakyat dan pemerintah Aceh belum sadar, mau kapan lagi? “


(Gambar : By Google)

Sekum Himmpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (HMJ-ASK) Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry. Dan peneliti Bidang Sejarah LSM Nagan Initiative



0 komentar:

Posting Komentar